AKHIR -> AWAL

Ketika orang lain disuguhkan pada gemerlap cahaya yang menyilaukan, tapi kau masih dihantui buramnya takdir yang ada didepan mata. Masalah datang ketika aku hendak lulus dari Mts. Aku bingung aku sudah tertarik pada beberapa sekolah yang cukup menjanjikan, tapi sayang usaha yang dirintis bapaku selama bertahun-tahun mendapat masalah yang cukup pelik, hingga akhirnya bapakupun harus gulung tikar. Tapi bagaimana lagi, daripada mamah & bapaku pusing, lebih baik aku mengikuti saran mereka, ke sekolah mana yang aku masuk, mereka yang pilihkan. Yang penting aku masih bisa melanjutkan sekolah, itu sudah cukup. Dan aku semakin pasrah untuk masuk ke sekolah pilihan mamah ketika guruku mengatakan “Emang kita pinter tapi tetep aja kalau ga punya biaya mending sekolah di yang biasa aja, dari pada maksain ntar malah jadi beban orangtua. Sebenernya sekolah sebagus / sebiasa apapun, bagus/ngganya itu tetep tergantung sama anaknya.” sebenernya aku juga iri sama temen-temen aku yang bisa ngelanjutin kesekolah yang dia mau tapi yah mungkin ini jalan aku. Aku cuma bisa ngikutin jalan yang udah ada. Tapi dibalik itu semua aku bersyukur aku masih punya teman dan seorang idola yang aku harapkan akan menjadi pusat perhatianku ‘untuk saat ini’ agar dapat melukiskan segaris raut kebahagiaan diwajahku . Seengga’nya kalau aku bisa tersenyum aku bisa nutupin perasaanku yang sebenarnya. Kepura-puraan itu sungguh melelahkan, seberapa kuat kau menguburnya ada saatnya ketika semua orang tau apa yang kau perbuat. Pura-pura kuat, sabar, tegar, tenang, senyum, tertawa. Sungguh melelahkan. Aku tidak ingin orang lain masuk terlalu dalam dikehidupanku, aku tidak ingin orang lain memasang wajah iba dihadapanku tapi tertawa dibelakang itu semua. Aku belum bisa menunjukan siapa aku sebenarnya, aku takut oranglain memandang rendah diriku yang sekarang. ‘pengecut’? itulah aku. Apa yang dapat kulakukan? percayalah aku hanya seorang anak kecil yang selalu membutuhkan pengarahan atas segala sesuatu yang akan kuperbuat. Dan saat ini aku tidak tau harus bagaimana? ketika aku sudah tidak bisa membendung semuanya yang aku lakukan hanya menangis ditambah lagi tak ada seseorangpun yang dapat kujadikan sebagai sebuah sandaran dan menjadikan beban itu semakin berat , sungguh memilukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s