Berandai-andai dengan angan-angan

Jujur aja, aku ini termasuk salah satu siswi yang tidak dapat menguasai semua mata pelajaran dengan baik, ya bisa dibilang aku hanya dapat menguasai satu atau dua bidang dari semua mata pelajaran yang ada. Beberapa waktu yang lalu aku pernah bilangkan kalau dari Tk sampai sekarang SMA aku ini selalu bersekolah disekolah dengan basis agama yang kuat, jadi tidak heran jika aku lebih menguasai ilmu agamaan dibanding pelajaran umum. Itu normalnya, tapi herannya yang terjadi justru sebaliknya, ku rasa aku lebih menguasai pelajaran umum dan akan merasa keteteran jika belajar katakanlah pelajaran mulok (muatan lokal). Jadi itulah masalahnya, disatu sisi dari awal aku (lebih tepatnya orangtuaku) sudah menetapkan sekolah itu sebagai tempatku menuntut ilmu. Sudah jadi kewajibanku untuk menjalankan seluruh aturan maupun tugas yang sudah ada, baik tertulis maupun tak tertulis macam adat kebiasaan (hafalan). Memang jika dikalangan masyarakat kemasyhuran akan ilmu agamanya yang kuat termasuk hafalannya di sekolahku itu sudah tidak diragukan lagi. Tapi disisi lain aku memang memiliki masalah pada kewajibanku yang satu itu HA-FA-LAN. Yah mau bagaimana lagi aku sudah menentukan pilihan dan sekarang yang harus aku lakukan adalah mempertanggung jawabkan hal yang sudah ku pilih. Kadang aku suka berandai-andai, membayangkan jika sekolahku itu menganut sistem pelajaran yang memperbolehkan siswanya memilih mata pelajaran yang mereka inginkan. Jadi kita bisa menentukan sendiri dan menggali bidang yang kita minati dengan baik. Kalau bisa aku hanya ingin mempelajari pelajaran kesukaanku saja, tidak seperti ini mengharuskan siswanya melalap habis semua pelajaran yang sudah ditentukan secara sepihak oleh sekolah. Maka dari itu sebenarnya pembelajaran manakah yang lebih baik? Lebih tepat? Lebih efektif? Yang seperti ini? Mempelajari semua mata pelajaran tanpa bisa fokus pada satu hal yang ingin kita perdalam? Tak ku pungkiri keunggulan dari pembelajaran seperti ini adalah sang anak akan dapat menguasai seluruh ilmu dengan sama rata. Tapi apakah semua siswa dapat menguasainya? Ini yang kupertanyakan? Lalu bagaimana dengan nasib anak sepertiku? Yang hanya bisa diunggulkan pada satu bidang itupun aku tak memiliki peluang untuk memperdalamnya, yang terjadi aku malah harus dicekoki dengan berbagai jamu yang tidak kusuka, yang tanpa ku kehendaki harus bisa ku kuasai. Dan aku yakin kebanyakan anakpun bernasib sama sepertiku “Bukankah menuntut ilmu itu bagai menggali sumur, jika kita terus berpindah tempat ketika menggalinya, kita tidak akan pernah bisa menemukan air yang hanya terdapat didasar tanah, ya tentu kita harus menggali sampai dalam tapi bagaimana bisa tergali sampai dalam jika yang kita lakukan hanya sedikit menggali lalu pindah, begitupun seterusnya. Jika begitu caranya kita tak akan pernah mampu menemukan dasarnya dan tentu kita tak akan mampu mendapatkan airnya.” Ataukah lebih baik pembelajaran seperti yang telah kujelaskan? Keinginanku? Memang kekurangan dari pembelajaran seperti itu yakni si anak hanya akan terfokus pada satu hal tanpa tertarik mempelajari hal-hal lain yang sebenarnya juga diperlukan. Tapi setidaknya ketika kita dapat memilih, kita akan memilih dengan hati kita, memilih apa yang kita sukai. Bukankah ketika kita memilih bidang apa yang kita suka, kita akan mempelajarinya dengan senang hati, tanpa paksaan yang potensi mempersulit ilmu masuk, jadi si anak akan memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapat ilmu dengan sedikit resiko yang perlu di hawatirkan. Dengan begini maka si anak akan memiliki suatu kemampuan yang dapat dia gunakan untuk menggapai kesuksesannya. Tapi kembali lagi aku teringat pada petuah guruku “semua ilmu itu baik, sekalipun ilmu itu dapat membuat mala petaka tapi bukankah itu kesalahan dari si pengguna ilmu tersebut jadi tidak ada salahnya jika kita mempelajari bahkan dapat menguasai semua ilmu.” lagi pula potret pendidikan di Indonesia itu sungguh menghawatirkan. Kita para pelajar seperti kelinci percobaan instansi pendidikan. Bukan hanya itu pendidikanpun seakan menjadi ladang emas bagi segelintir pihak yang berkedok ‘pahlawan pendidikan’. Tak sadarkah mereka dibalik cemerlangnya pendidikan Indonesia (katanya) ternyata masih banyak potret buram yang tersamarkan. Indonesia? Yang katanya negara dengan ratusan Universitas. Buat apa membangun ribuan sekolah, Universitas tapi rakyatnya saja tak mampu menjangkaunya? Bahkan hampir setiap lembaga memiliki universitasnya sendiri. Untuk apa kalian membangun semua itu jika tak ada orang yang mampu menjadi bagian dari Universitas itu sebagai salahsatu siswanya. Beasiswa banyak tapi omong kosong jika ada yang mengatakan semuanya gratis, ia hanya berperan sebagai impuls agar setiap anak dapat masuk universitas dan untuk selanjutnya beban itu akan ditanggung lagi oleh sang siswa. Pada kenyataannya beasiswa belum mampu memecahkan wabah buta huruf yang meradang dinegri kita. Inilah gambaran pendidikan di Indonesia, penuh paksaan, penuh potret buram.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s