Tak ada yang berubah

Mungkin kalian kira aku berubah dan merasa keheranan atas perubahaku tapi yakinlah dari dulu aku seperti ini, tak ada yang berbeda. Sekalipun ada perubahan, mungkin keterbukaanku berbicara mengenai rahasia dengan mudahnyalah satu-satunya perubahanku itu atau dengan kata lain bercerita perihal perasaankulah perubahan itu, tapi perubahan itupun hanya sebatas tulisan tak lebih.
Tak seperti kalian yang dari dulu mampu menunjukan perasaan kalian secara gamblang, sekarang saja aku hanya berani menyurakan isi hatiku lewat cara ini, menyusun perasaanku menjadi satu dan menerjemahkannya melalui rangkaian kata.
Aku masih seperti dulu yang jarang menceritakan ‘perasaanku terhadap seorang pria’ pada orang lain tapi kerap kali kalian salah mengartikannya, menduga aku tak pernah tertarik pada seorang pria, padahal itu tak benar, ditambah aku malas tuk menyanggah dugaan kalian, jadilah seperti itu kalian salah paham.
Ketika aku tak mengungkapkannya bukan berarti aku tak memiliki rasakan? Dan ketika aku seperti sekarang ini, seterbuka ini mengungkapkan perasaanku, kalian semakin salah paham.
Mungkin dulu aku tidak seleluasa ini bercerita mengenai seorang pria, tak seberani ini menggambarkan perasaanku, namun untuk apa aku tutup-tutupi jika aku tak lagi memiliki alasan untuk menutupinya.
Bukankah dulu aku menutupinya karna sungkan tuk mengungkapkan dan takut menghadapi reaksinya jika dia mengetahui hal itu, namun sekarang ketika dia telah tiada, jauh dari jarak pandangku dan tak mungkin lagi mampu mendengar suara hatiku, apa aku tetap harus menutupinya? Tidakkan?
Jadi sekarang aku mencoba tuk mengeluarkan semua perasaan yang selama ini ku pendam walau aku tau dia membutuhkan kekuatan super tuk mampu mengetahui perasaanku ini dengan sendirinya, sedangkan dia hanya manusia biasa jadi dia tak mungkin menyadari hal ini tanpa perantarakan?
Akupun tak berharap dia akan mengetahui perasaanku ini.
Maaf jika dulu aku tidak seterbuka ini pada kalian, bukannya aku tak mempercayai kalian. Aku hanya tidak ingin menjadi bahan tertawaan kalian dan menghapus kemungkinan tatapan iba yang aku terima karna memiliki kisah cinta yang miris sekaligus patut tuk ditertawakan ini.
Aku perempuan biasa yang juga ingin didengarkan, tapi waktu itu aku hanya ingin menikmati rasa sakit itu sendiri dan tidak ingin melibatkan kalian, lagi pula aku tidak berniat agar dia tau jadi lebih aman jika rahasia itu ku pendam sendiri.
Maaf, untuk semuanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s