Angin..

Angin berkenankahkau membawaku pergi, menjauh dari kehidupan yang memuakan ini, dunia terlalu kotor untukku, penuh dengan kebusukan yang mampu tersamarkan oleh hingar bingar dunia yang menyilaukan seluruh penghuninya.
Memang, aku tidak sesuci itu, aku tidak sebaik itu, tapi aku ingin lebih baik, jauh lebih baik dari ini.

Jujur saja semua orang telah terbutakan oleh gemerlap dunia yang menggiurkan, ia menawarkan keindahan palsu, kebahagiaan semu yang memuakkan.
Demi mendapatknnya saja manusia rela menggadaikan jiwanya pada setan tuk menukarkannya dengan secuil dari harta yang tuhan punya, mencuri apa yang bukan menjadi haknya.
Gilanya ditengah modernitas yang berkembang masih banyak saja orang yang kenghilangan akal sehatnya. Mereka rela meluangkan waktu sibuknya tuk mendatangi dukun-dukun yang mereka anggap sakti mandraguna demi sebuah wejangan-wejangan diluar nalar. Hanya orang bodoh yang mampu dibodohi orang bodoh.
Tentu saja bodoh, jika mereka orang pintar harusnya mereka mampu menggunakan otak jenius mereka tuk memikirkannya dengan logika, jika mereka -dukun- mampu membuat orang lain kaya kenapa dia tidak membuat diri mereka sendiri kaya, lagipula jika mereka dapat membuat dirinya kaya mungkin mereka juga tidak akan memungut sepeserpun biaya untuk praktek perdukunannya tersebut. Sesat.

Ada juga orang yang menjilat manusia lain dan mengagungkannya seakan orang berharta adalah tuhan yang mampu mengangkat harkat dan martabatnya, seakan mampu memberikannya sebongkah emas sebagai pereda nafsu atas berbagai tuntutan ditengah lingkungan dengan gaya hidup selangit.

Orang berlomba-lomba berebut surga dunia bahkan mereka sanggup menggunakan cara terkeji sekalipun untuk menyingkirkan orang lain yang sama-sama menginginkan apa yang diburunya.
Mereka menuhankan selembar kertas yang mereka sebut uang, seakan-akan ia -uang- adalah sumber dari segala kehidupan, tujuan akhir dari kehidupannya dan tanpa’nya’ mereka semua akan mati. Tolol.
Bukankah mereka sendiri yang menciptakan’nya’ kenapa pada akhirnya mereka sendiri yang bergantung pada’nya’.

Sungguh, bumi sudah cukup tua tuk menanggung semua kebiadaban ini, dan semakin rapuh digerogoti kebusukan yang diciptakan penghuninya.

Dunia telah penuh sesak dengan kebohongan, kepalsuan, paksaan, bodoh-membodohi tidak ada lagi ketulusan yang tersisa.
Jika adapun itu sudah langka.
Hanya orang-orang tertentulah yang masih memilikinya dan hanya orang-orang terpilihlah yang dapat merasakannya, mendapatkan apa sebuah ketulusan itu.

Alih-alih memiliki tatakrama yang baik mereka malah berlomba-lomba melakukan perbuatan yang biadab, dengan melenyapkan etika & sopan santun yang bagi sebagian orang sangat dijunjung tinggi.

Tak kenal waktu, tempat dan umur banyak orang yang mengerjakan kebiadaban.Itukah sikap orang-orang terpelajar? Itukah gaya hidup yang ditawarkan oleh modernitas? Sungguh memilukan. Miris.

Apa yang menyebabkan moral manusia menjadi busuk seperti itu?
Setan apa yang merayu manusia pada kenistaan macam ini?
Aku pikir terkadang perilaku manusia itu lebih biadab dari hewan sekalipun.

Demi suara angin yang berdesir, kau mendengar keresahanku? Bawalah aku ketempat dimana benih benih ketulusan dapat tumbuh dengan subur. Atau dapatkah kau menumbuhkannya? biar tugas hujan tuk melimpahkannya pada seluruh bumi, agar manusia kembali pada fitrahnya seperti sedia kala.

Cinta yang digadang-gadangkan memiliki ketukusan yang cukup tinggipun nol. Hanya sebuah teori yang kebenarannya tidak cukup menjanjikan.

Jadi aku bisa apa? Aku masih ingin merasakan ketulusan itu, jika aku saja tak dapat merasakannya bagaimana dengan keturunanku dimasa yang akan datang? Tentu saja jika Tuhan masih sudi tuk menjaga keeksisan bumi dan seluruh isinya.
Apakah mereka tak akan dapat merasakannya?
Akan seburuk apalagi bumi ini?
Azab apa lagi yang sebenanya manusia tunggu?
Bencana apa lagi yang manusia inginkan atas kemurkaan pemilik jagat raya ini?
Tragedi apa lagi yang dapat merubah semua ini menjadi seperti sedia kala?
Sebenarnya apa yang kalian cari?
Aku yang sejenis dengan kalianpun tak mengerti apa yang sebenarnya kalian inginkan, apa yang kalian cari? Kehancurankah? Jika itu yang kalian inginkan, teruskanlah apa yang sekarang kalian kerjakan, dengan begitu tuhan akan dengan senang hati melenyapkan semuanya, lebur tak tersisa.

Angin jika kau tak sudi membawaku pergi, setidaknya hebuskanlah segala kebiadaban dari muka bumi ini sejauh mungkin. Agar bumi kembali suci seperti semula. Sampaikanlah keresahanku ini pada pemilikmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s