Nilai?

Akhir tahun didepan mata, saatnya berlibur dan istirahat sejenak dari rutinitas yang ada. Namun untuk mendapat jatah liburan, ada harga yang harus dibayar. Bagi para pelajar tentu sudah tak asing lagi dengan yang namanya ujian.
Namun inikah ujian yang sebenarnya? Berlomba-lomba mendapatkan nilai tertinggi, dengan menggunakan berbagai ‘cara’ untuk menyelesaikannya? Mencontek?
Takut. Mungkin semua ini berawal dari rasa takut. Takut nilai kecil, takut dimarahi mamah, takut dimarahi guru, takut nilaiku turun, takut tak dapat ranking.
Miris rasanya, bahkan mungkin realita (contek-mencontek) yang ku ketahui saat ini hanya sebagian kecil dari rahasia-rahasia lain yang lebih besar, bumbu-bumbu penghilang rasa takut.
Naif rasanya jika ku bilang tak memerlukan nilai-nilai itu, karna nyatanya akupun menyukai nilai yang tinggi, lebih. Namun jujur saja rasanya ada yang salah.
Mungkin benar yang dikatakan Agustinus Wibowo ”Adakah bagian dari perjalanan hidup ini yang terlepas dari ketakutan?”
dan ini adalah salah satu cara yang digunakan untuk menghilangkan rasa takut, takut akan ‘nilai’.
Apa arti nilai sebenarnya? Kupikir nilai ulangan hanyalah rentetan angka yang belum pasti keakuratannya.
Apa yang akan kau dapat dari angka-angka itu?
Bukankan ujian diadakan untuk mengukur keberhasilan belajar seorang murid? Hilang sudah arti sebuah ujian yang sebenarnya.
Niat awal dan tujuan yang salah akan menghasilkan pelajar berjiwa pengecut yang haus akan nilai, bukan pelajar dalam arti sebenarnya.
Ditambah tuntutan yang ada hanya akan memberi beban pada para pelajar untuk terus neningkatkan nilai.
Tak ada salahnya kita mendapat nilai tinggi, mengejar nilai tinggi, namun yang salah adalah jika kita hanya mengejar nilai tanpa mendapatkan ilmunya. Bukankan pada hakikatnya pelajar bersekolah adalah untuk mencari ilmu? Apa jadinya jika pelajar sekarang hanya mementingkan nilai tanpa benar-benar mendapatkan ilmu?
Kupikir adanya nilai adalah sebagai pemacu para pelajar untuk terus meningkatkan prestasi belajarnya, jangan sampai nilai ini menjadi dalih para pelajar untuk menghalalkan cara kotor dalam ujian.
Karna pada masa (bangku sekolah) ini pelajar akan dibentuk karakternya, jangan sampai karakter yang terbentuk adalah karakter-karakter yang mengarah pada sudut negatif, dan menjadikan kejujuran sebagai barang langka.
Tapi aku yakin disamping kelumrahan ini, ada segelintir pelajar yang masih menghargai kejujuran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s